Ultimate magazine theme for WordPress.

ESKPLOITASI

Pak Da, kenapa mengekploitasi kesusahan, kebodohan dan kemiskinan serta dunia anak dan bencana? Karena banyak yg tidak senang sy mengeksploitasi covid-19. Karena klo mengeksploitasi kebaikan di kira Riya!.

Hehehe.. Bercanda.. Sy insyaAllah tdk sedang mengeksploitasi mereka. Sy hanya sedang menceritakan sebahagian kecil dari pengalaman perjalanan saya dari 1 tempat ke tempat lainnya, dari 1 kejadian ke kejadian lainnya. Sekali lagi, hanya sebagian kecil saja yg sy kisahkan, niatnya utk syi’ar dan mengajak kepada yg lainnya utk ikut bersimpati dan berempati, minimal mengalirkan do’a-do’a.

Banyak sahabat sering bilang begini ke saya “pak da.. Sy mau seperti komiu.. Punya waktu untuk kesana kemari, mengunjungi dan bersilaturrahim dengan mereka. Tapi, sy tidak bisa. Sy hanya bisa menitipkan do’a dan sedikit rezeki untuk di teruskan kepada mereka”.

Alhamdulillah, jazakumullahu khairan katsir. Hanya itu yg bisa sy ucapkan dan balaskan. Karena tak Ada yg bisa membalas setiap kebaikan kecuali Allah Ta’ala yg Maha Baik. Maka sy mengembalikan kebaikan antum semua kepada Allah Ta’ala.

InsyaAllah, bagi para sahabatku yg menitip, titipannya kami upayakan 100% sampai ketujuan. Jujur, sesekali sy gunakan untuk pembeli bensin 100 atau 200 rb bila kebetulan kami sama sekali kehabisan bekal di lapangan. Tp, insyaAllah selalu kami gantikan dgn segera untuk kembali kami salurkan sesuai peruntukannya.

Bersyukur bahwa Allah Ta’ala telah memberikan bekal berupa usaha Properti tanpa bank yg kami pelajari dan praktekkan secara otodidak beberapa tahun lalu sebelum property tanpa bank booming akhir-akhir ini. Dari cicilan-cicilan penjualan properti tanpa bank yg masih berjalan sampai sekarang itulah yg menjaga kami utk terus bisa simultan bergerak dari 1 tempat ke tempat lainnya.

2 landasan filosofia yg selalu kami gunakan yaitu filosi tukang adzan dan tukang manjat kelapa. Dan ini adalah pesan emmak kami almarhumah tercinta yg selalu beliau ulang-ulang.

Tukang adzan itu yg paling pertama buka pintu masjid, yg paling pertama shalat di Masjid, setelah shalat tahiyatul Masjid, lalu dia memutar murattal alQur’an utk di perdengarkan ke jama’ah yg ada di rumah, setelah itu beliau menyapu dan mengepel Masjid. Setelah Masjid bersih, barulah beliau menyerukan adzan mengajak jama’ah utk bersegera ke Masjid shalat ber jama’ah. Ya, lakukan dulu, dan jadikan menyeru adalah langkah terakhir.

Tukang manjat kelapa, ikhtiar maksimal yg bahkan tdk semua org bisa lakukan. Jatuhkan kelapa muda ke bawah dan dia sendiri hanya akan mendapatkan bagian paling akhir, itupun bila masih di sisakan oleh orang-orang yg menunggui hasil ikhtiarnya di bawah. Bila menjatuhkan kelapa tua ke bawah, maka tak ada yg tidak bermanfaat dari ikhtiarnya. Semuanya bermanfaat seperti kelapa. Sabuknya, tongkolnya, santannya, minyaknya, bahkan ampasnya pun multi manfaat. Sekali lagi, si pemanjat kelapa dapat bagian paling akhir dan sedikit, ya karena dia hanya seorang pemanjat kelapa yg sering di hinakan di kampung2. Ia sama dgn tukang adzan yg juga sering di sepelekan sebagai strata terendah dalam struktur pegawai syara’ di kampung-kampung. Banyak yg lupa, klo pekerjaan merekalah yg termulia.

So, menuliskan ini sekedar berbagi cerita. Bila akhirnya ada yg memahami, alhamdulillah. Bila tidak memahami dan tetap berprasangka, kami kembalikan kepada Allah Ta’ala. Kami tak kuasa memahamkan siapapun.

Intinya harus tetap ada yg mengumandakan adzan meski mungkin kemudian dia tak mendapatkan shaf pertama dalam shalat. Harus tetap ada yg me manjat kelapa, agar ada yg manisnya air kelapa muda bisa di nikmati serta santan, minyak, dan kemanfaatan lainnya dari kelapa tua, bisa di nikmati. Meski si pemanjat kelapa sering di lupakan.

Mariki’ saudaraku sahabatku.. Jgn berhenti tebar kebaikan, apapun peran kita masing-masing. Minimum apungkan do’a-do’a terbaik.

Saya tutup catatan ini dgn mengutip perkataan salah satu guru kami.

“Suatu saat antum akan dilupakan. Tapi itu tak apa-apa, itulah sunnatullah kehidupan. Setidaknya selama hidup, engkau telah pernah memberi arti pada kehidupan. Akhir dari segala urusanmu dan ujung perjalananmu adalah kematianmu, dan sebaik-baik kematian adalah husnul khatimah.. Semoga Allah Ta’ala mewafatkan kita semua dalam keadaan husnul khatimah”.

Sy hanya bisa duduk tertunduk dan terpekur, dan tiada henti hati dan mulut ini dgn lirih mengaminkan.

“Aamiin ya Allah”.


Maaf, catatan ini dan foto yg menyertainya sangat tipis bedanya antara syi’ar dan Riya.

Komentar
Loading...