Ultimate magazine theme for WordPress.

Annisa Putri Ramadhani Sang Princess Jeneponto

Princessss Jentak
Annisa Putri Ramadhani

Sejak usia 8 bulan di tinggal ibundanya yg pergi entah kemana. Tinggallah ia kini bersama sang kakek dan nenek. Hidupnya Nyaris terlunta-lunta sebagaimana terlunta-lintunya kehidupan sang kakek dan nenek. Sering ia makan siang tapi tdk makan malam atau sebaliknya makan malam dan tdk malam siang. Bahkan terkadang Annisa tak makan sehari semalam karena tak ada sebutir nasi pun ada di rumahnya.

Sejak 4 tahun lalu hingga 13 hari yg lalu, Annisa tinggal di salah satu sudut ruangan sekolah yg sdh tak di gunakan karena sudah nyaris roboh dgn atap sebahagian sdh tak ada. Dan dengan alasan gedung sekolah hendak di robohkan, maka dengan terpaksa mereka “terusir” dari tempat tinggalnya. Kini, Annisa tinggal di rumah yg kosong karena di tinggal penghuninya merantai. Di bagian rumah bawah dari rumah panggung yg sangat sederhana. Itupun sewaktu-waktu mereka bisa kembali terusir bila yg punya rumah datang ataupun saat air banjir datang di puncak musim hujan. Ya, tahun lalu, Banjir datang menyapa hingga air tersisa sejengkal dr lantai kayu atas. Semoga tahun ini tdk. Karena bila banjir datang, bisa di pastikan mereka kembali akan kehilangan tempat tinggal.

Kakeknya buka tanpa ikhtiar utk bisa memiliki rumah. Puluhan tahun sang kakek bekerja sebagai pengayuh becak dan berhasil menabung. Dari tabungannya itu sang kakek sudah bisa memilih tanah ukuran 6×12 meter seharga Rp.10 jt, beberapa batang balok untuk tiang rumah panggung senilai Rp. 2 jt, dan beberapa lembar seng bekas untuk atap senilai Rp. 1,25 jt. Tp, semua itu blum cukup utk bisa mendirikan rumah panggung sederhana sebagai tempat berteduh dari perihnya dunia, sekaligus tempat tinggal yg tdk tergenang banjir di kala musim penghujan datang.

Sang kakeknya Annisa yg kini sdh pengsiun sebagai pengayuh becak karena fisik sudah tak sanggup dan kini hanya melanjutkan profesi sebagai merbot masjid dgn penghasilan Rp.150 rb/bulan bercerita butuh Biaya skitar Rp. 30 jt untuk melengkapi bahan bangunan dan biaya pendirian rumahnya.

Inilah dunia dgn segala cerita indah dan pahitnya.. Tak terkecuali Annisa yg begitu ramah dan murah senyum..

“Annisa mau tinggal di Makassar bersama sy, Nanti sy kasih sekolah?”
“Tidak mauja Karaeng..”
“Kenapa tdk mau?”
“Mauja Karaeng tapi ikutpi nenekku, klo tidak ikuti nenekku, tdk ada jagai di sini karaeng”.
“Nusayangki neneknu?”
“Iye Karaeng.. Kusayangki”.
“Manai paeng mama’nu?”
“Tidak kutauki Karaeng.. Jahatki mamakku, nakasih tinggalkanka”.
“Annisa harus rajin sekolah nah”.
“Iye Karaeng.. Karaeng, uang yg kita kasihka, kukasihki nenekku nah.. Bapake beli beras sm sayur”.
“Iye nak… Kasihmi neneknu.. Ehh nisa, jangan panggilka Karaeng.. Kakakmo atau om atau bapak”.
“Biarmi Karaeng.. Kupanggil karaengki”.

Ahhh.. Ini anak… !!!

***
Tim misi kemanusiaan dan keummatan PRI dan OB Foundation untuk Kab.Jeneponto Sulawesi Selatan.

Komentar
Loading...