Ultimate magazine theme for WordPress.

Jangan Seperti Orang Tuamu atau Mertuamu

Jangan seperti Orang Tuamu pun Mertuamu!!!

Begitulah nasehatku untuknya, utk dia yg ada pada gambar ini. Sosok lelaki yg berjuang menaikkan anaknya dengan susah payah ke lantai 2 Villa Kampoeng Berkah Pasigala. Bukan sy cuek atau tak ingin membantunya menaikkan sang anak tp sy membantu dgn cara lain, yaitu memaksanya menguatkan pundak, dada, semangat dan tentu saja kaki kirinya agar bisa bertopang dgn kuat karena kaki kanannya telah lumpuh permanen pasca likuifaksi Balaroa. Bukan saja utk menopang tubuhnya, tp juga menopang anak-istrinya, menopang kehidupan dan masa depan mereka. Menopang pendidikan mereka. Menopang dunia akhirat mereka.

Dari cerita pilumu sy mesti belajar, mungkin juga yg membaca catatan ini. Makanya catatan ini sy buat.

Bisa jadi engkau adalah personifikasi derita kehidupan. Di masa kecil engkau di buang ibu bapakmu sendirian di kampung orang, di perbatasan 2 negara, di sungai nyamuk Kalimantan Timur. Akhirnya dirimu di pungut orang kemudian di sekolahkan SD dan SMP. Setamat SMP dirimu pun hijrah ke Palu setelah mendapat kabar bahwa saudara kandungmu atau kakakmu yg juga di buang seperti dirimu berdomisili di kota Palu.

Qadarullah, di Palu dirimu tak bertemu dengan sang kk. Akhirnya kisah petualangan dirimu di mulai sekali lagi. Engkau yg sebatang kara kembali di pungut orang dan di pekerjakan di warung sari laut “mas Joko”. Engkau bekerja dari 1 pekerjaan ke pekerjaan lain. Akhirnya di usiamu yg ke 19 tahun, engkau menemukan jodohmu dgn pekerjaanmu saat itu sebagai buruh di toko bangunan.

Saat Hidupmu mulai tenang, sekali lagi pemdulum takdir itu bergerak utk mengujimu. Gempa datang membawa tsunami dan likuifaksi. Dan kakimu patah tulang bagian betis di balaroa. Mungkin karena keadan kacau balau, akhirnya engkau menjalani operasi seadanya. Kaki kananmu akhirnya tak bisa di gunakan.

Setelah agak sembuh, kembali dirimu mencari kerjaan, tp kali ini sungguh sulit mencari kerjaan. Akhirnya dirimu harus berpindah kota utk mendapatkan pekerjaan sbg sopir angkut bawang dgn penghasilan perbulan antara 300-500 rb. Sayangnya saat dirimu yg sedang bekerja dgn kaki patah yg belum sembuh betul, dirimu kembali kena musibah. Jatuh saat mengangkat bawang sekarung. Dan kakimu pun kembali patah di tempat yg sama. Dan kali ini lebih tragis. Sebagian tulang betis kakimu lepas yg menyebabkan kaki kananmu memendek dan lumpuh total.

Di tengah putus asamu, engkau kembali ke kota Palu. Berharap dapat sambutan hangat dari anak istri dan mertua. tp, yg engkau dapatkan sebaliknya. Sekali lagi engkau di usir dan di buang seperti tumpukan sampah palstik yg berserakan di halaman rumah mertuamu. Di usir dan buang kedua kali dalam hidupmu saat engkau tak berdaya. Tak berdaya karena masih kanak-kanak saat di buang orang tuamu, tak berdaya saat di usir dan di buang oleh mertuamu saat dirimu cacat permanen.

Malam itu, Allah mempertemukan kita. Di salah sudut rumah sakit. Engkua menyapaku dengan sedikit memelas. “pak Da, adakah pekerjaan utk saya”. Yg pertama sy lakukan adalah memandangmu dgn seksama. Kemudian kita ngobrol dan makan bersama. Sejam kemudian kita menjemput anak istrimu yg sedang kelaparan.

Brother… Jadilah kuat.. Jangan seperti org tuamu pun mertuamu yg tega membuangmu. Berjuanglah utk anak-anakmu. Jaga mereka. Pastikan mereka bisa menjemput masa depan yg lbh baik dan bahagia.

Bro… Engkau hebat… Jauh lebih hebat dariku.. Engkau bisa bertahan dari berbagai ujian hidup yg keras.. Aku mungkin tak sanggup bila harus menjalani hari yg keras seperti dirimu.

Terima kasih tela memberi pembelajaran berharga utkku, untuk kami semua..

Semoga Allah melindungi dan menjagamu serta mencukupkan rezekimu untuk masa depan keluargamu.

Bro… Kamu hebat..!!!

***
Kutuliskan catatan ini saat duduk mengantri di BNI Dewi Sartika Palu. Mari menjadi pembelajar kehidupan. kamis,  15/01/2020

Komentar
Loading...