Ultimate magazine theme for WordPress.

Tak Pernah PENSIUN

Kini saya tahu bahwa ternyata ada pekerjaan yg tak ada masa pensiunnya. Selama sehat dan masih bisa berjalan kaki ke masjid, pun selama masih bisa menegakkan tulang punggung, maka amanah itu terus ada di pundak. pekerjaan itu adalah pegawai Syara’ atau agama.

Beliau adalah bapak Rajadeng, yg sejak sy mengenalnya dgn fisik yg masih segar bugar, hingga kini dgn fisik yg sudah ringkih, masih setia dgn pekerjaannya sebagai imam rawatib, tarwih dan imam masjid.

Suatu kali beliau menyampaikan sedikit cerita tentang perjalanan hidupnya kepadaku. Di darahnya mengalir darah keturunan Jeneponto dan Tosora Wajo, tumbuh besar di bulukumba.. di awal tahun 70 an, beliau pernah merantau ke Jampea Takalar utk berkebun, tp tak seberapa lama di sana memutuskan pulang. Sekitar pertengahan tahun 70 an, beliau merantau ke Kolaka untuk mencari lokasi bertani.. Akhirnya, di salah satu pinggiran kampung beliau menemukan lokasi tanah yg masih berupa hutan..

Alhamdulillah, dgn penuh ke sabaran dr awalnya berupa hutan bukit dan lembah, di gubah oleh beliau menjadi kebun yg lembahnya di tanami pohon kakao atau coklat dan bukitnya di tanami pohon cengkeh.. dari hasil banting tulang bertani itulah beliau menyekolahkan anak-anaknya yg 7 orang hingga sarjana.. istimewanya adalah sang anak tertua adalah sarjana pertama yg ada di kampungnya.. maklum saat itu, kesadaran para org kampung utk menyekolahkan anak2nya masih sangat kurang, rata2 hanya tamat SD atau beruntung bila ada yg sekolah hingga SMP.

Itulah istimewanya bapak Rajadeng. Beliau selalu berpesan ke anak-anaknya utk benar-benar serius menuntut ilmu. Di kirimlah anak-anaknya utk pergi jauh bersekolah setamat SD.

“Pergiki’ sekolah nak.. attunru-tunruko.. attongeng-tongengko.. tidak ada yg bisa bapak dan emmakmu wariskan.. tanah atau harta kita sedikit tdk cukup utk di bagi-bagi.. yg bisa bpk dan emmakmu wariskan adalah ikhtiar utk kamu semua bisa sekolah.. ingatki kisahnya nabi Daud dan nabi sulaiman nak, saat di tawari oleh malaikat utk memilih antara ilmu, harta dan tahta, maka mereka memilih Ilmu, dan dgn ilmu mereka akhirnya menguasai harta dan tahta.. janganki takut nak, insyaAllah kami di sini akan bersungguh-sungguh berikhtiar utk membiayai sekolahmu.. bila bapakmu dan emmakmu sdh tdk sanggup biayai sekolahmu, bpk dan emmakmu akan mengirimi kalian surat utk minta kalian pulang..”.

Pesan itu senantiasa di sampaikan oleh bapak Rajadeng dan ibu ke anak-anaknya Saban waktu melepas anak-anaknya hendak berangkat menuju tanah rantauan utk bersekolah.

Kembali ke cerita pertama.. saat sy mulai mengenal beliau sebagai manusia yg berfikir dan berakal, sy mengenalnya sebagai imam masjid kami, dan hingga kini, setelah sekian puluh tahun usia sy, saat sy pulang kampung ke Kolaka utk berlebaran dan bersilaturrahim dgn keluarga besar, saya masih menemukan beliau dgn setia memimpin shalat rawatib dan tarwih, di masjid kampung ku meski bacaannya sudah tdk sejelas dan sefasih dulu saat masih muda…

Bapak Rajadeng…. Beliau adalah bapakku.. bapak pejuang.. bapak yg tak banyak bicara, tapi sekali berbicara sy pasti akan menyimaknya baik-baik.. termasuk saat memerintahkan sy utk pergi merantau setamat SD utk melanjutkan sekolah.. tanpa diskusi , tapa pertanyaan, tanpa sanggahan, tanpa kata ba bi bu.. BERANGKAT !

Semoga Allah merahmati dan meridhai seluruh hidup dan kehidupanmu wahai bapakku dan juga emmakku yg selalu setia mendampingimu.. do’aku senantiasa menyertaimu..

Ya Allah, sehatkanlah emmakku yg saat ini sakit.. berkahilah dia di sepanjang hidupnya..

Meura Kolaka, 13 Juni 2019

***

Catatan ini di buat 3 pekan sebelum emmakku meninggal dunia, semoga Allah Ta’ala melapangkan  dan menerangi kuburnya.. Al Fatihah.   Aamiin

Komentar
Loading...