Ultimate magazine theme for WordPress.

Dunia 6 Kilometer

N R Daeng 1993

Saya dilahirkan tahun 1982 di salah 1 kampung pelosok Kab. Kolaka Sulawesi Tenggara. Dari 7 bersaudara, sy adalah anak ke 4, orang bugis bilang “mallempa”, 3 depan 3 belakang atau 3 atas 3 bawah atau sy di tengah-tengahnya alias kk sy ada 3 orang, adik sy juga 3 orang.

Sebagai anak kampung, sy berkategori sangat atau super kampung, tentu sj kategori itu sy buat sendiri dan sy lekatkan ke diri sy sendiri. Musababnya adalah sejak sy lahir hingga tamat SD di kampung, dunia bagi sy saat itu hanya sepanjang 6 Kilometer dan selebar 4 Kilometer. 3 kilometer ke barat arah pusat desa dan 3 kilometer ke Timur arah ke kota Kolaka. 2 kilometer ke Utara arah gunung, 2 kilometer ke selatan empang arah laut. Bila toh sy jalan-jalan, paling jauh ke timur pasar Malaha ± 3 KM dr rmh, atau ke barat di Masjid desa atau ke pabrik beras di Kaloloa yg jaraknya juga ± 3 KM. Selebihnya ke utara ke kebun atau ke selatan ke empang utk mandi-mandi.

Seluas itulah dunia bagi anak kampung seperti sy saat itu. Meski demikian, insyaAllah sy adalah anak kampung yg hidup bahagia, saban hari rutinitasnya adalah bersekolah tanpa alas kaki, bermain tanpa sentuhan permainan modern alias seluruh mainan di buat sendiri dan tentu saja berkebun membantu orang tua.

Dunia terbuka luas bagi sy barulah di tahun 1993, setamat SD. Tanpa ba bi bu, suatu siang di bulan Juli, sy berangkat ke Sengkang Sulawesi Selatan utk melanjutkan sekolah SLTP. Berbekal koper dan pakaian secukupnya serta do’a tulus org tua, sy di lepas berangkat. Sy tak tau apakah dgn air mata atau tanpa air mata Bpk emmakku saat itu, yg sy ingat hanyalah pesannya yg selalu membekas di hati hingga saat ini. Sy hanya tau, beban Bpk emmakku semakin bertambah, karena ke 3 kk ku sj sebelumnya, bpk dan emmak sdh harus pontang panting membiayai sekolahnya, dan kali ini di tambahkan sy menjadi 4 orang anaknya yg harus sekolah meninggalkan kampung.. Pasti tambah pontang panting bekerja di kebun.. (Ya Allah, jadikanlah Bpk emmakku penghuni SurgaMu kelak, sungguh sy tak rela kulit Bpk emmakku di sentuh api nerakaMu).

Hari ini, di kapal ini, sy mengenang kisahku itu.. Mengenang saat pertama kali keluar kampung, saat pertama kali menginjakkan kaki di kota kolaka utk sekedar lewat menuju daerah rantauan. Saat pertama kali melihat rumah-rumah bagus, Saat pertama kali naik kapal, saat pertama kali melihat banyak mobil dan motor, saat pertama kali merantau meninggalkan kampung halaman.

Sy merantau di usia sy yg belum cukup 12 tahun. Tepatnya 11 tahun 7 bulan. Alhamdulilah, di usia itu sy sdh bisa mencuci dan masak sendiri. Ya, sejak kelas 4 SD emmak sdh mengharuskan anak-anaknya utk bisa mencuci pakaian sendiri… Oh iya, nama kampungku adalah Meura (Dulu adalah dusun III Meura Desa Kaloloa Kec. Wolo Kabupaten Kolaka. Kini pas di batas desa Malaha dan Desa Meura Kec. Samaturu Kabupaten Kolaka. Keduanya pecahan dari desa induk Kaloloa yg kini telah menjadi 3 desa).

Arengngerrakko nak di..
Angngu’rangiko nak di..

***
± sejam lagi kapal sandar di pelabuhan Tobaku Kolaka Utara.. Pulang Kampung bro sis…

 

Lautan Teluk Bone, 6 Juni 2019

Komentar
Loading...