Ultimate magazine theme for WordPress.

WIRANTO DAN NKRI MENUJU BENCANA PARIPURNA

“Kok gak mati?”
“Ahh gak kena kok!”
“Biasa saja, gak seberapa di banding apa yg di rasakan oleh saudara-saudara kita di Wamena, Maluku, dan korban demo rusuh”.
“Ahh itu hanya sandiwara saja…’
“Kok pake pisau, kenapa gak pake bom atau pistol, biar bener-bener kliatan seperti ISIS”.
“Turut prihatin, mari mendoakan kesembuhan utk pak Wiranto”.

5 : 1

Itulah secara umum tanggapan dr teman2 medsos sy baik di FB maupun WA dan Twitter terkait penyerangan terhadap Menko Polhukam Jend.(Purn) Wiranto yg menurut berita tertusuk 2 kali di bagian perut..

Sy pun sempat ikutan larut dgn membuat bbrp ts di FB dengan mencoba menimbang dari sisi kemanusiaan dan penghormatan terhadap simbol negara (pejabat).

Penilaian itu sifatnya apa yg tampak di permukaan saja sesuai kabar dan berita dari berbagai sumber. Bila benar terjadi penyerangan dan penusukan, maka tentu saja kita harus prihatin dan berempati pada 2 hal terlepas dr berbagai embel-embel yg mengikuti. Kemanusiaan dan Negara. Pak Wiranto sebagai Manusia Biasa dan pak Wiranto sebagai pejabat tinggi negara..

Penyerangan terhadap diri pribadi orang lain adalah kejahatan dalam terminologi hukum. Begitu pula main hakim sendiri meski merasa berada di pihak yg benar adalah kejahatan.

Sebagai simbol negara yg sedang melaksanakan tugas negara, tentu saja lebih memprihatinkan lagi. Karena ini menjadi pertanda sekaligus manjadi standarisasi prilaku rakyat kedepan.. Negara dan Pemerintah telah kehilangan wibawa dan harga di mata rakyatnya sendiri. Cerminan ini tdk hanya karena adanya penyerangan, tp juga berbagai macam silang pendapat yg terjadi setelahnya. 5 : 1 dalam penilaian sy seperti di awal catatan ini menjadi penjelas bahwa kita wajib prihatin dgn kondisi negara kita saat ini.

Lalu bagaiman dgn berbagai analisa dan pendapat terkait apa yg terjadi di bawah permukaan, pengetahuan kita sungguhlah sempit, nyaris semua bersifat spekulatif dan tak bisa di pertanggung jawabkan. Terkait ini, sy tak berani ikut berspekulasi di medsos… Karena spekulasi itu mudharatnya jauh lebih besar.. Kajian-kajian tentu ada setelah mengumpulkan data dari berbagai sumber, tp itupun masih sifatnya spekulasi…

So, sejauh ini, berprasangka baik dgn menghindari spekulasi apalagi yg bersifat hoax atau bohong atau fitnah dan tuduhan haruslah di hindari..

Oh iya, juga sangat patut utk di sayangkan bila blom apa-apa telah muncul simpulan ISIS, JAD, islam Radikal, Teroris, dll, hanya bbrp menit atau jam setelah kejadian. Padahal blom di lakukan gelar kasus dll… Prihatin juga dgn adanya pernyataan bahwa kecurigaan akan adanya penyerangan sejak 3 bulan lalu kepada Wiranto tp tak ada antisipasi, Ini gak logis… Semua pernyataan ini pun masihlah bersifat spekulasi… Bisa jadi berkategori spekulasi jahat yg terkondisi di setiap kejadian di negeri ini..

Yg lebih prihatin lagi adalah kini, di negeri ini nyaris tak ada informasi yg bisa di percaya kebenarannya 100%.. Semua menjadi campur aduk… Benar dan salah menjadi sulit di bedakan.. Kita nyaris menjadi negeri yg abu-abu.. Produksi hoax dan bohong di produksi oleh kedua arus besar yg ada.. Tangan-tangan jahat terus bekerja tiada henti menina bobokkan kita dalam melodrama perpecahan dgn saling hina, caci, tuduh, merasa paling benar, pihak lain pasti salah, dll…

Kabar lebih buruk utk kita semua adalah kita di hadapkan pada ancaman bencana moral yg lebih besar, bencana dan tragedi kemanusian yg lebih besar, bencana alam yg tiada akhir, bencana kemorotan ekonomi, bencana ketimpangan sosial, bencana kegaduhan politik, bencana ketidak adilan penegakan hukum, bencana perpecahan dan disintegritas serta bencana kepemimpinan dan kekuasaan dan berbagai bencana lainnya yg akan menguci kita bukan hanya sebagai suatu negara, tapi juga sebagai satu entitas bangsa.

Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga kita semua…

Komentar
Loading...