Ultimate magazine theme for WordPress.

PANAH BERACUN DAN TEMBAKAN | Kisah Dr. Hisbullah Amin Dari Wamena Papua

SERANGAN PANAH BERACUN DITANGKIS DENGAN TEMBAKAN KE ATAS.

SERANGAN PANAH BERACUN DITANGKIS DENGAN TEMBAKAN KE ATAS

Saya sempat mencatat beberapa aspirasi warga Wamena yg memilih bertahan tidak mau eksodus, saya juga sempat merekam beberapa video, salah satunya seperti yang saya posting ini adalah suasana ketika ada pertemuan masyarakat di Posko KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) Kota Wamena Kab. Jawa Wijaya Papua.

Saya mencoba menarasikan apa yang saya lihat, dengar dan rekaman video :

“Kita ini mau bantu aparat, kasihan kan mereka itu. Mau ambil tindakan, terikat prosedur. Kalau kita ini masyarakat yah.. sama-sama tdk terikat prosedur… Itukan kejadian kemarin, kasian aparat hanya bisa menembak keatas.. Kita ini pemuda-pemuda mau bersatu, tapi harus ada komando …. Mau dibawa ke mana kita ini”.

Saat saya melintasi kantor bupati yg sdh hangus dibakar saya bertanya ke warga yg mengantar :

Sa (dr. Hisbullah) : ”Pak ini kan kantor luas, kayaknya butuh waktu lama, butuh banyak orang utk membakarnya, bagaimana ceritanya mereka bisa menghabisi semuanya…

Wa (Warga) : “Masalahnya pak, mereka2 itu tahu kalau tdk akan diapa-apai sama aparat. Mereka masuk satu persatu, masing-masing mencari ruangan. Mereka berani karena merasa dibiarkan, aparat tidak akan bertindak. Mereka tahu betul kalau aparat takut dicap melanggar HAM makanya mereka berani semaunya.

Sa : “Kenapa ada daerah yg habis dibakar, tapi ada juga yang tidak tersentuh. Mestinya kan kalau dibiarkan habis semua ini bangunan kios dan ruko.
Wa : “Begini kejadiannya pak. Pertamanya mereka hanya demo di kantor bupati, tau-tau kantor sdh dibakar. Tiba-tiba massa berpencar di 3 titik. Kayaknya mereka dikomando. Waktu itu kami tdk siap, kayaknya aparat juga begitu. Terus terang kami tdk siap, tdk menyangka mereka akan menyerang, membunuh dan membakar. Makanya banyak warga yg lari kocar kacir. (Sambil menunjuk suatu wilayah) …. Itu pak … habis itu .. di situ warga minang … ada yg dibakar sama orang-orangnya …. Itu juga sana …. Banyakan orang jawa…. kalau sekitar sini…. Makassar ini”.

Sa: “Kembali ke tadi pak, kenapa daerah ini selamat tdk terbakar..”
Wa : “Oh iya, sampai di sini kami bertahan …. Jadi itu anak-anak muda bersatu kumpul di sini … mereka penyerang-penyerang itu … tertahan di sana…”

Sa : “Tdk ada aparat yg bantu?”
Wa : “Waktu itu kacau sekali pak, aparat konsentrasi amankan warga terutama anak-anak, perempuan sama pegawai-pegawai, umumnya mereka bertahan di kantor-kantor Kodim, Polres, DPRD, karena banyak sekali warga yg kumpul di sana. Jadi itu aparat memang melindungi warga yg sempat lari …. Nah yg terbunuh atau yg terbakar itu yg terjebak dan tdk sempat lari”.

Sa : “Jadi kita berhadap-hadapan pak ?
Wa : “Kira2 begitu pak…. Kebetulan memang yang di sini mereka tdk sebanyak yg di sekitar kantor bupati … kalau sehari2 sebenarnya mereka tdk berani sama kami pak… nah waktu kami coba bertahan, mereka juga tdk berani masuk ….. malah sempat kami desak mundur ke daerah sana ….. seandainya tdk ada aparat waktu itu, sebanrnya kami bisa menyerang balik di satu titik itu….”

Sa: “Jadi … kedepannya bagaimana pak ?”
Wa: Kami ini mau bantu aparat.. sama-samakita jaga keamanan … anak-anak muda dari suku mana saja, kalau bisa jangan ikut pergi, mari kita sama-sama di sini … biar perempuan sama anak-anak saja yang mengungsi … Kalau kita bersatu di sini, mana berani mereka mengacau lagi”.

Sa: “Apa harapan warga sama aparat pak ?”
Wa: “Saya tdk tahu prosedurnya aparat pak …. Masalahnya di kerumunan mereka itu ada yg bawa senjata pak …. Mana lagi banyak yang bawa panah, panahnya beracun pak …. Nah masalahnya sekarang ini kami dilarang bawa badik, dilarang bawa senjata tajam… kalau ada serangan lagi bagaimana kami mempertahankan diri… kami kan berhak mempertahankan diri… kami yakin sekali waktu kejadian di mereka ada yg bawa senjata api, makanya yg begitu-begitu kalau bisa ditumpas … tdk berdaya kami kalau begitu caranya, ada tembakan”.

Saya : “Bagaimana kalau kami upayakan mediasi, kita adakan perdamaian”.
Wa : “Loh ini bukan konflik pak. Ini sepihak, kami diserang pakai parang, panah, senjata, sedangkan kami tangan kosong, kami ini kan cuma pedagang cari nafkah di sini. Kami tdk pernah menggangu mereka, sebagian dari kami lahir di sini, kami sudah berbaur dgn orang di kota wamena ini. Jadi sebenarnya kami-kami ini tdk ada masalah dgn mereka, kurang apa kami ini pak, bahkan biasa kami kasi makan sama mereka. Itu tdk adilnya pak, suatu waktu ada diantara warga mereka yg tergores sedikit karena cekcok pribadi, mereka datang ngamuk satu kampung, giliran kami diserang, dikejar-kejar mau dibunuh, dibakar rumahnya, masa kami di suruh bersabar, mau di damai, sejak dulu kami ini selau berdamai dgn siapa saja. Kalau mereka penyerang-penyerang itu mau dilindungi HAM nya lalu di mana HAM nya kami. Masak cuma mereka yg punya HAM sedangkan kami tidak, dimana keadilannya.

Dr. Hisbullah Amin, SpAn.KIC.KAKV saat bertugas sebagai relawan kemanusiaan di Wamena Papua. 30/09/2019.

Sa : “Bagaimana tadi harapannya sama aparat atau pemerintah..”
Wa : “Kalau masalah keamanan ini pak, berikan kami kesempatan untuk membela diri, kami berhak untuk mempertahankan diri kalau diserang. Kalau aparat tdk berani bertindak karena takut melanggar HAM atau karena ada perintah dari atas, yah kami masyarakat yang tersisa ini akan berusaha bagaimana caranya bertahan, kalau perlu kami belajar bela diri. Seandainya kami berhadap-hadapan sama-sama pake parang pak, lain ceritanya, belum tentu kami kalah … Makanya ini orang-orang di luar sana tolong berpihak sama kami yg tangan kosong, jangan bela-bela mereka penyerang yg seenaknya bebas bawa-bawa segala macam senjata”.

Sa : “Terakhir pak, kalau menurut bapak, ini demo spontan atau apa ?”.
Wa : “Aiii bukan spontan ini pak, jelas sekali anu direncanakan, kayaknya anu disetting ini … masyarakat di sini tahu itu, ada yg gerakkan, inikan kejadiannya serentak di tiga titik, ada komandonya, kita dtk siap, malah sebagian menyamar jadi anak sekolah, pakaian anak sekolah, makanya kita tidak curiga. Waktu mereka sudah banyak yah kita tdk tahu, kita kecolongan..”

Maaf narasinya terlalu panjang, saya kesulitan menarasikan sedemikian rupa agar enak dibaca dan tdk menimbulkan masalah. Saya mohon maaf kpd warga yg kebetulan terekam video, postingan ini semata-mata utk kemaslahatan semoga aspirasi bapak-bapak bisa didengar oleh kita semua, khususnya para penentu dan pengambil kebijakan dari pusat hingga daerah.

Dr. Hisbullah Amin
Relawan Kemanusiaan
Ketua Dewan Pembina Para Relawan Indonesia.

Komentar
Loading...