Ultimate magazine theme for WordPress.

Ndeso, Sederhana, Merakyat.

Cara pandang kita terpaksa harus di rubah di masa depan karena ternyata semua point pada judul di atas tak bisa di komparasikan dgn kata ketulusan, kesimpatian dan keempatian.

Hal yg sama dengan Keras, Garang, Progresif, bila di sandingkan kepada seseorang juga tak bisa di komparasikan dgn kata kebengisan, otoriter dan ke antipati an.

Lihatlah sejarah, saat seorang pemimpin besar kerjaannya mengendap-endap di malam hari yg hanya di bersamai oleh seorang asistennya di pemukiman penduduk miskin. Begitu ada yg di dapatinya rakyat yg tdk makan atau kelaparan, maka bersegera ia pulang utk mengambil logistik makanan yg kemudian di panggulnya sendiri utk di serahkan kepada rakyatnya yg kelaparan.

Pun juga saat kotanya di timpa musibah gempa bumi, beliau langsung tersungkur bersujud memohon ampunan kepada Tuhannya seraya bertanya kepada dirinya “dosa apa, kekhilafan apa, salah apa, khianat apa, diriku dalam memimpin rakyat sehingga Tuhan mengirimkan bencana sebagai peringatan”.

Sosok itu bernama Umar Bin Khattab, sosok yg di masa mudanya dicitrakan Keras, Berangasan, Temperamen, Tidak Sabaran, dll..

Inilah dunia.. Terkadang kita terlalu mudah tertipu oleh apa yg tertangkap oleh panca indra kita serta fikiran-fikiran sempit kita. Terlalu mudah akal kita di tipu oleh kefana’an dunia yg terlihat begitu wahh mewahh yg di bungkus dengan rapih dan bersih..

Terkadang juga demi piring tetap utuh, demi dapur tetap berasap, demi plesiran ke tempat yg di senangi, kita terpedaya utk memihak dan membenarkan kedzaliman dan kedustaan yg di bungkus kesederhanaan, ke ndesoan dan kemekerakyatan padahal itu tak lebih dari sekedar pencitraan Lugu-lugu Bangsat !!!

Salam Damai dari Bukit Poi Popa Pasigala.

Komentar
Loading...